The Indonesian Youth Leadership Institute)
Pendahuluan
Kepemimpinan dan kepemudaan bagaikan dua sisi mata uang. Pemuda telah membuktikan memberikan peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia; utamanya dalam kontinuitas kepemimpinan nasional.
Bisa disebutkan tahun 1908, 1928, 1945, 1966, 1998 adalah milestones sejarah bangsa ini sekaligus mempertegas betapa pemuda memegang peran strategis dalam menentukan arah kepemimpinan nasional bangsa Indonesia.
Masa kini adalah bagian dari masa depan. Tantangan bangsa di masa depan jauh lebih berat dari masa kini. Pemuda sebagai pilar kepemimpinan bangsa tentu perlu mebekali diri, mempertajam kompetensi, mengasah kecerdasan dan memposisikan diri lebih tepat di lingkungannya; baik masyarakat terdekat, lingkup nasional, regional maupun internasional.
Pemuda dengan segala potensinya harus menjadi akselerator pembangunan karakter bangsa. Hanya dengan terus menerus meng-upgrade diri lah pemuda bisa menjalankan perannya sebagai pilar kepemimpinan nasional.
Kepemimpinan kepemudaan adalah dua sisi mata uang; saling melengkapi dan menjadi pilar bagi keberlanjutan pembangunan bangsa.
Logo IKKI
• Garis hitam di kedua sisi adalah lambang pilar dan ketegasan
• Belah ketupat di tengah adalah bentu 2 dimensi dari sebuah intan; simbol kekuatan
o Warna hijau adalah lambing spiritualitas
o Warna biru adalah lambing keluasan pandanga/kebijaksanaan
o Warna kuning/emas adalah lambing kecerdasan
o Warna merah adalah lambing keberanian
Vision
Menjadi mitra dan rujukan dalam pengembangan kepemimpinan kepemudaan Indonesia
Objectives
1. Mengembangkan kajian kebijakan kepemudaan
2. Membangun jaringan nasional, regional dan internasional
3. Mengembangkan program pendidikan dan pelatihan kepemimpinan kepemudaan
Main Activities
Kajian kebijakan kepemudaan
- Kajian kebijakan kepemudaan di Indonesia
- Kajian kebijakan kepemudaan di daerah
- Kajian kebijakan kepemudaan internasional
Membangun jaringan
- Membangun jaringan nasional
- Membangun jaringan regional
- Membangun jaringan internasional
Pendidikan dan Pelatihan
- Pendidikan kepemimpinan kepemudaan
- Pendidikan dan pelatihan kewirausahaan pemuda
- Pendidikan dan pelatihan kepeloporan kepemudaan
Kegiatan lain
- Seminar/konferensi nasional dan internasional
- Penulisan artikel
- Penerbitan buku
Tuesday, November 06, 2007
Menuju (Bulan) Kemenangan
Oleh Zamzam Muharamsyah
Rembulan bulat utuh putih cemerlang di langit Sya’ban. Bulan ini sudah habis setengahnya. Dua minggu ke depan akan kita jumpai Ramadhan mulia. Bulan suci yang kekhasannya senantiasa dirindukan muslimin sedunia.
Bulan yang khas, Ramadhan menyimpan nilai-nilai istimewa. Sebagian orang menyebutnya bulan suci. Yang lain lebih senang memanggilnya bulan perjuangan. Ada pula yang menjulukinya bulan kemuliaan dan bulan kemurahan. Sedemikian istimewanya, sehingga Ramadhan berhak menyandang nama-nama mulia itu.
Tetapi, rasanya jarang kita dengar orang menyebutnya bulan kemenangan. Kebanyakan orang lebih senang menggunakan kata kemenangan untuk menamai hari raya ‘Idul Fitri. Ramadhan bulan perjuangan dan ‘Idul Fitri hari kemenangannya setelah sebulan penuh berjuang.
Padahal kalau kita kembali menyimak sejarah, pada bulan Ramadhan telah terukir catatan-catatan kemenangan besar. Mulai dari kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar Agung, kemenangan pasukan Islam dalam perang Khandak, dan peristiwa Revolusi Futuh Mekah, hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 61 tahun yang lalu, semuanya terjadi pada bulan Ramadhan nan Agung.
Bukan hanya itu, pada bulan Ramadhan seluruh kaum muslimin diberi satu kesempatan yang sama untuk berhasil mencapai kemenangan (baca: ketakwaan), kewajiban puasa dan penglipatgandaan pahala. Di samping, limpahan rahmat dan pengampunan serta jaminan terjauh dari api neraka. Jika seorang muslim berkesempatan bertemu dengan Ramadhan lalu mengisinya dengan sepenuh keikhlasan dan pengharapan maka baginya Ramadhan menjadi bulan kemenangan. Firman Allah, “Wahai Orang-orang beriman, telah diwajibkna kepada kalian puasa agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183). Sabda Rasulullah, “Barang siapa puasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, maka dia diampuni dari dosa-dosa masa lalunya.”
Maka, do’a yang diajarkan Rasulullah adalah, “Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan…” karena Ramadhan betul-betul menjanjikan kemenangan. Di lain kesempatan Rasulullah pernah mengamini malaikat Jibril yang berdo’a, “Celakalah orang yang sampai pada bulan Ramadhan tetapi ketakwaannya tidak bertambah!” Tetapi, Rasulullah juga memberi kabar gembira kepada para ahli puasa, bahwa mereka akan mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan setiap kali mereka berbuka dan kebahagiaan ketika mereka bertemu dengan Allah.
Akan tetapi, harus diingat bahwa kemenangan yang dijanjikan Ramadhan bukan kemenangan instan yang diberikan begitu saja. Sebulan penuh kita diwajibkan menahan kendali nafsu yang biasanya kita umbar sekehendak hati: nafsu perut, nafsu mulut, dan nafsu kemaluan. Sebulan penuh harus kita isi dengan segala jenis kebaikan yang telah dijanjikan pahala berlipat ganda dengan menjaga keikhlasan dan ketekunan dalam menjalankannya. Semoga Allah memberi kita kekuatan. Wallahu a’lam.
Rembulan bulat utuh putih cemerlang di langit Sya’ban. Bulan ini sudah habis setengahnya. Dua minggu ke depan akan kita jumpai Ramadhan mulia. Bulan suci yang kekhasannya senantiasa dirindukan muslimin sedunia.
Bulan yang khas, Ramadhan menyimpan nilai-nilai istimewa. Sebagian orang menyebutnya bulan suci. Yang lain lebih senang memanggilnya bulan perjuangan. Ada pula yang menjulukinya bulan kemuliaan dan bulan kemurahan. Sedemikian istimewanya, sehingga Ramadhan berhak menyandang nama-nama mulia itu.
Tetapi, rasanya jarang kita dengar orang menyebutnya bulan kemenangan. Kebanyakan orang lebih senang menggunakan kata kemenangan untuk menamai hari raya ‘Idul Fitri. Ramadhan bulan perjuangan dan ‘Idul Fitri hari kemenangannya setelah sebulan penuh berjuang.
Padahal kalau kita kembali menyimak sejarah, pada bulan Ramadhan telah terukir catatan-catatan kemenangan besar. Mulai dari kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar Agung, kemenangan pasukan Islam dalam perang Khandak, dan peristiwa Revolusi Futuh Mekah, hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 61 tahun yang lalu, semuanya terjadi pada bulan Ramadhan nan Agung.
Bukan hanya itu, pada bulan Ramadhan seluruh kaum muslimin diberi satu kesempatan yang sama untuk berhasil mencapai kemenangan (baca: ketakwaan), kewajiban puasa dan penglipatgandaan pahala. Di samping, limpahan rahmat dan pengampunan serta jaminan terjauh dari api neraka. Jika seorang muslim berkesempatan bertemu dengan Ramadhan lalu mengisinya dengan sepenuh keikhlasan dan pengharapan maka baginya Ramadhan menjadi bulan kemenangan. Firman Allah, “Wahai Orang-orang beriman, telah diwajibkna kepada kalian puasa agar kalian bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183). Sabda Rasulullah, “Barang siapa puasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, maka dia diampuni dari dosa-dosa masa lalunya.”
Maka, do’a yang diajarkan Rasulullah adalah, “Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan…” karena Ramadhan betul-betul menjanjikan kemenangan. Di lain kesempatan Rasulullah pernah mengamini malaikat Jibril yang berdo’a, “Celakalah orang yang sampai pada bulan Ramadhan tetapi ketakwaannya tidak bertambah!” Tetapi, Rasulullah juga memberi kabar gembira kepada para ahli puasa, bahwa mereka akan mendapatkan dua kebahagiaan: kebahagiaan setiap kali mereka berbuka dan kebahagiaan ketika mereka bertemu dengan Allah.
Akan tetapi, harus diingat bahwa kemenangan yang dijanjikan Ramadhan bukan kemenangan instan yang diberikan begitu saja. Sebulan penuh kita diwajibkan menahan kendali nafsu yang biasanya kita umbar sekehendak hati: nafsu perut, nafsu mulut, dan nafsu kemaluan. Sebulan penuh harus kita isi dengan segala jenis kebaikan yang telah dijanjikan pahala berlipat ganda dengan menjaga keikhlasan dan ketekunan dalam menjalankannya. Semoga Allah memberi kita kekuatan. Wallahu a’lam.
Monday, November 05, 2007
Sunday, November 04, 2007
Inspiring my vision….(1):
Semangat yang Akan Ku Pegang Teguh
Begitu banyak hal-hal besar yang ingin kucapai dalam hidup ini. Motivasi ini tumbuh seiring berjalannya waktu perkuliahan yang telah kulewati bersama orang-orang yang hebat yang ada disekitar aku. Termasuk diantaranya adalah para professor yang menjadi salah satu sumber ilmu kami. Berbagai ilmu kami dapatkan. Diskusi pun turut mewarnai pengembangan ilmu yang kami dapatkan.
Sepertinya agak aneh bagiku jika setiap insan yang hadir dalam kegiatan perkuliahan tidak tergugah hati nuraninya untuk melakukan perubahan. Hakikat dihadirkannya program ini sepertinya sudah mulai menjangkiti kami semua. Setidaknya menjangkiti setiap inchi otak dan hati nuraniku.
Pusing tetapi sekaligus menyenangkan. Kurasa itu adalah kata-kata yang tepat untuk mewakilkan apa yang kurasakan saat ini. Karena hasrat intelektual yang selama ini tersumbat telah mendapatkan haknya serta tergugahnya hati nurani yang telah terpendam oleh rutinitas kehidupan.
Bagaimana tidak! Jika setiap harinya kami selalu dijejali oleh rumit dan kompleksnya permasalahan negeri ini dan “ditantang” untuk melakukan tindakan-tindakan “out of box” untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui teori-teori “maut” yang dihidangkan para professor kepada kami.
Rasanya ada perasaan bersalah yang akan menghantui diri ini seumur hidup jika aku tidak bergerak dan melakukan perubahan. Membayangkan wajah-wajah penuh harap dari rakyat yang telah rela (atau mau tidak mau harus rela) uangnya dipakai untuk membiayai kuliah yang aku jalani. Kuliah yang katanya untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan. Berat rasanya jika harus bermalas-malasan menjalani kuliah ini. Walau letih menjalani kuliah sepulang kerja di Depok, rasanya tak sebanding dengan penderitaan mereka yang telah kupakai uangnya yang menghabiskan hampir Rp 60 juta selama 2 tahun masa kuliah per orangnya. Jika dikalikan 30 orang (jumlah satu angkatan) maka anggaran rakyat yang terpakai sebesar sekitar Rp 1,8 M untuk mencetak pemimpin masa depan. Subhanallah! !! Masya Allah!!! Mungkin dibandingkan dengan anggaran proyek-proyek pembangunan fisik di Indonesia sangat jauh sekali marginnya. Tetapi jika uang itu dipakai untuk kesejahteraan rakyat, juga bukan angka yang kecil.
Selain itu kesibukan yang ku jalani pun tidak seberapa dibandingkan pengorbanan teman-teman kuliahku yang harus menyatroni jarak yang tidak dekat, kesibukan yang tidak sedikit, serta penghasilan yang tidak melimpah untuk membiayai kebutuhan pendukung kuliah.
Memikirkan hal tersebut. Membuat aku semakin BERSEMANGAT menjalaninya. Membuat aku tidak ingin menyia-nyiakan harapan rakyat Indonesia .
We are Indonesia Future Leaders!!! Yes we are!!! Indonesia tunggulah saatnya. Gebarakan perubahan akan kami hadirkan. Kamilah wajah-wajah pemuda Indonesia yang akan memimpin negeri ini ke arah kebaikan, para mahasiswa Pascasarjana UI Kajian Pengembangan Kepemimpinan Nasional.
“Rabbana laa tuziq quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah. Innaka antal wahhaab…”
Ya Allah tetapkanlah semangat ini terus membara dalam diri kami. Jadikanlah kami generasi yang akan membawa negeri ini ke arah perubahan. Perubahan yang akan mengembalikan kemuliaan dan harga diri bangsa Indonesia. Semoga kami bisa saling menguatkan satu sama lain Semoga….Semoga… .dan Semoga…..
So….let’s do it GENK …..!!!! n_n
Think Globally, Act Locally
Mulai dari yang kecil
Mulai dari kita
Mulai dari sekarang
Best regards,
Rosmalita
Begitu banyak hal-hal besar yang ingin kucapai dalam hidup ini. Motivasi ini tumbuh seiring berjalannya waktu perkuliahan yang telah kulewati bersama orang-orang yang hebat yang ada disekitar aku. Termasuk diantaranya adalah para professor yang menjadi salah satu sumber ilmu kami. Berbagai ilmu kami dapatkan. Diskusi pun turut mewarnai pengembangan ilmu yang kami dapatkan.
Sepertinya agak aneh bagiku jika setiap insan yang hadir dalam kegiatan perkuliahan tidak tergugah hati nuraninya untuk melakukan perubahan. Hakikat dihadirkannya program ini sepertinya sudah mulai menjangkiti kami semua. Setidaknya menjangkiti setiap inchi otak dan hati nuraniku.
Pusing tetapi sekaligus menyenangkan. Kurasa itu adalah kata-kata yang tepat untuk mewakilkan apa yang kurasakan saat ini. Karena hasrat intelektual yang selama ini tersumbat telah mendapatkan haknya serta tergugahnya hati nurani yang telah terpendam oleh rutinitas kehidupan.
Bagaimana tidak! Jika setiap harinya kami selalu dijejali oleh rumit dan kompleksnya permasalahan negeri ini dan “ditantang” untuk melakukan tindakan-tindakan “out of box” untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui teori-teori “maut” yang dihidangkan para professor kepada kami.
Rasanya ada perasaan bersalah yang akan menghantui diri ini seumur hidup jika aku tidak bergerak dan melakukan perubahan. Membayangkan wajah-wajah penuh harap dari rakyat yang telah rela (atau mau tidak mau harus rela) uangnya dipakai untuk membiayai kuliah yang aku jalani. Kuliah yang katanya untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan. Berat rasanya jika harus bermalas-malasan menjalani kuliah ini. Walau letih menjalani kuliah sepulang kerja di Depok, rasanya tak sebanding dengan penderitaan mereka yang telah kupakai uangnya yang menghabiskan hampir Rp 60 juta selama 2 tahun masa kuliah per orangnya. Jika dikalikan 30 orang (jumlah satu angkatan) maka anggaran rakyat yang terpakai sebesar sekitar Rp 1,8 M untuk mencetak pemimpin masa depan. Subhanallah! !! Masya Allah!!! Mungkin dibandingkan dengan anggaran proyek-proyek pembangunan fisik di Indonesia sangat jauh sekali marginnya. Tetapi jika uang itu dipakai untuk kesejahteraan rakyat, juga bukan angka yang kecil.
Selain itu kesibukan yang ku jalani pun tidak seberapa dibandingkan pengorbanan teman-teman kuliahku yang harus menyatroni jarak yang tidak dekat, kesibukan yang tidak sedikit, serta penghasilan yang tidak melimpah untuk membiayai kebutuhan pendukung kuliah.
Memikirkan hal tersebut. Membuat aku semakin BERSEMANGAT menjalaninya. Membuat aku tidak ingin menyia-nyiakan harapan rakyat Indonesia .
We are Indonesia Future Leaders!!! Yes we are!!! Indonesia tunggulah saatnya. Gebarakan perubahan akan kami hadirkan. Kamilah wajah-wajah pemuda Indonesia yang akan memimpin negeri ini ke arah kebaikan, para mahasiswa Pascasarjana UI Kajian Pengembangan Kepemimpinan Nasional.
“Rabbana laa tuziq quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rahmah. Innaka antal wahhaab…”
Ya Allah tetapkanlah semangat ini terus membara dalam diri kami. Jadikanlah kami generasi yang akan membawa negeri ini ke arah perubahan. Perubahan yang akan mengembalikan kemuliaan dan harga diri bangsa Indonesia. Semoga kami bisa saling menguatkan satu sama lain Semoga….Semoga… .dan Semoga…..
So….let’s do it GENK …..!!!! n_n
Think Globally, Act Locally
Mulai dari yang kecil
Mulai dari kita
Mulai dari sekarang
Best regards,
Rosmalita
Sunday, October 21, 2007
Saturday, October 20, 2007
Thursday, October 18, 2007
Monday, October 15, 2007
Saturday, October 13, 2007
Lebaran di KBRI Korea

Alhamdulillah, tahun ini kita bisa melaksanakan shalat idul fitri.
Bagi orang Indonesia yang ada di Korea, idul fitri diadakan di KBRI Korea.
Acaranya padat, dihadiri sekitar 1.500 jamaah. Setelah shalat ied, kita berebutan lontong plus opor, yang memang ngangenin. selain itu juga foto-foto dan ketemu dengan beberapa mahasiswa yang lagi belajar di Korea. seneng rasanya, banyak orang indonesia bertebaran dimana-mana. semoga saja menjadi aset untuk bangsa ini agar lebih berdaya saing di masa depan.
Kebetulan, Dubes Indonesia utk Korea, Bp. Jacob Tobing ada juga, makanya kita sekalian foto aja. Dan beliau dengan ramah, mengajak sekalian makan siang. Lumayan juga. Perbaikan gizi.
Yang paling penting kita bisa bersilaturahmi dan banyak informasi tentang kepemudaan.
semoga bermanfaat.
Monday, October 08, 2007
Presentasi Ttg Youth Policy

Hari ini kita presentasi ttg Youth Policy di Indonesia, sambil mendengarkan apa yang dijelaskan oleh delegasi dari negara lain.
Walaupun secara formal kita ngga ada bekal ttg Youth Policy, tapi, dengan adanya internet, kita bisa menjadi "pengarang" yang bagus.
Ternyata, dari ketentuan usia saja, tentang Youth bisa berbeda antar negara:
- Korea : 9 - 24 tahun
- Indonesia: 18 - 35 tahun
- Malaysia: 15 - 25 tahun
- Kamboja: 15 - 30 tahun
- Thailand: 18 - 25 tahun
Dari perbedaan range usia itu juga yang membuat perbedaan masalah kepemudaan di berbagai negara.
Akan tetapi, benang merahnya tetap ada, masalah utama kepemudaan tidak lepas dari kesempatan pendidikan, drugs, dan infiltrasi budaya.
Jadi sebenarnya kita punya PR yang hampir sama di ASEAN, sama-sama mengurusi kepemudaan yang banyak masalah mendasarnya.
Akan tetapi insyaallah hal ini bisa diatasi, selama ada konsistensi dan kesungguhan.
Bee
Thursday, October 04, 2007
Day 4: Belajar Memanah & Berkuda

Jum'at, pagi2 kita belajar memanah. ternyata ngga gampang. kayanya kita perlu ada session training outdoor memanah. karena, ketika diajar training memanah, ternyata bukan teknih memanah yang menarik.. tapi filosofi di belakangnya....
Ini kata sang trainer...
1. Panah dalam posisi awal berbeda ketika akan dipakai. Artinya, kita harus berubah menyesuaikan kondisi
2. Panah tidak ada artinya tanpa anak panah, butuh partnership yang komplemen
3. Mengapa panah jadi olahraga, padahal dulu digunakan untuk berburu? Karena sekarang panah terlalu lambat dibandingkan pistol atau senapan. Dunia selalu berubah.
4. Posisi tangan di ujung busur sangat menentukan arah anak panah yang melesat. Posisi tangan yang memegang tali busur menentukan bagaimana jarak tempuh anak panah.
5. Ternyata ngga mudah untuk melepaskan anak panah walaupun busur sudah direntangkan. Itu karena masih ada rasa takut. Jadi, untuk melesatkan anak panah, rasa takut harus dihilangkan.
Setelah itu kita latihan memanah step by step, untuk menunjukkan proses bagaimana kemampuan kita memanah.
Dan terakhir memanah dengan menggunakan target. Yang hasilnya, tidak ada satu pun yang tepat.
Subhanallah, baru kali ini saya mendapat penjelasan tentang makna olah raga memanah sambil langsung praktek memanah. Alatnya sederhana, tapi maknanya dalam....
Siang ini kita akan berlatih berkuda...
Jadi, rupanya Islami juga training mereka, hanya saja galian hikmahnya lebih ke filsafat ketimbang spiritual.

1. Belajar berkuda mulai dari cara nuntun kuda, jangan terlalu di depan atau dibelakang. takut terinjak. Berdiri saja di dekat kuda 1/2 langkah, jadi bisa mengendalikan kuda. Ini ada hubungannya dengan ledaership (versi saya minimal), bahwa jadi leader harus di depan, tapi ngga usah ninggalin anak buahnya terlalu jauh, sehingga masih ada kendali untuk mengarahkan.
2. Terus ngasih makan kuda pake wortel. Ternyata kudanya jadi lebih nurut. Kalau dihubungkan dengan leadership, bisa jadi wortel itu adalah reward yang bisa memotivasi, sehingga leader makin dihargai untuk dituruti arahannya
3. Riding horse melintasi area berbentuk lingkaran. cuma 5 orang yang nyoba. ternyata ngga mudah juga. Kalau dihubungkan lagi ama kepemimpinan, bisa jadi bahwa leader dan anak buahnya memang harus punya lintasan untuk mencapai tujuan.
So.. that's all for today... see u tomorrow...
Day 3 in Cheonan: Main Bola & Leaderhsip
Ternyata di Korea Selatan itu ada 700 Youth Center
dan pusatnya di National Youth Center, Cheonan ini...
Banyak banget ya.. dan semuanya connected, ada sistem informasi
yang bisa menghubungkan semua organisasi tersebut...
(hmmm... comparing to Indonesia?)
So.. pemerintah mereka bener-bener serius ngurusin pemudanya...
Tapi, memang NYC ini bikin cemburu, karena
mereka mendapat support lebih banyak dibanding organisasi lain
(sama kaya di Indonesia).
Tapi, NYC memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan pemuda
di Korea Selatan melalui program-programnya...
Jadi tidak menghabiskan dana pemerintah tanpa memberikan
imbal balik nyata dan terukur.

Baban dan Fathur jadi bagian dari tim sepakbola NYC.
Hari ini kita ikut Sport Program di NYC
Mereka mengadakannya 2 kali setahun
Pesertanya dari Cheonan dan Pyung Thang Youth Center
prinsip main bola mungkin seperti prinsip kepemimpinan
ada posisi dan ada yang ngatur posisi (coach)
jadi, begitu saya akan jadi pemain pengganti,
coach langsung mengarahkan posisi mana yang harus diisi
Ngga jauh beda ama prinsip kepemimpinan
harus ada arahan (ini prinsip kepemimpinan) kepada orang
untuk mengisi posisi (placing) sesuai dengan kemampuannya
(competency based).
Jadi, tim bisa menjadi harmonis. Main bolanya jadi nikmat
Seharusnya kepemimpinan yang baik bisa membuat
'para pemain timnya' bisa menikmati perjalanan organisasi
Ibarat kata kita ini (mahasiswa S2 adalah pemain....
mungkin pemain cadangan)
maka butuh coach yang bisa memberikan arahan (dr kemenegpora?)
sehingga kompetensi kita bisa optimal ketika menempati posisi
yang memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan pemuda
di Indonesia.
dan pusatnya di National Youth Center, Cheonan ini...
Banyak banget ya.. dan semuanya connected, ada sistem informasi
yang bisa menghubungkan semua organisasi tersebut...
(hmmm... comparing to Indonesia?)
So.. pemerintah mereka bener-bener serius ngurusin pemudanya...
Tapi, memang NYC ini bikin cemburu, karena
mereka mendapat support lebih banyak dibanding organisasi lain
(sama kaya di Indonesia).
Tapi, NYC memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan pemuda
di Korea Selatan melalui program-programnya...
Jadi tidak menghabiskan dana pemerintah tanpa memberikan
imbal balik nyata dan terukur.

Baban dan Fathur jadi bagian dari tim sepakbola NYC.
Hari ini kita ikut Sport Program di NYC
Mereka mengadakannya 2 kali setahun
Pesertanya dari Cheonan dan Pyung Thang Youth Center
prinsip main bola mungkin seperti prinsip kepemimpinan
ada posisi dan ada yang ngatur posisi (coach)
jadi, begitu saya akan jadi pemain pengganti,
coach langsung mengarahkan posisi mana yang harus diisi
Ngga jauh beda ama prinsip kepemimpinan
harus ada arahan (ini prinsip kepemimpinan) kepada orang
untuk mengisi posisi (placing) sesuai dengan kemampuannya
(competency based).
Jadi, tim bisa menjadi harmonis. Main bolanya jadi nikmat
Seharusnya kepemimpinan yang baik bisa membuat
'para pemain timnya' bisa menikmati perjalanan organisasi
Ibarat kata kita ini (mahasiswa S2 adalah pemain....
mungkin pemain cadangan)
maka butuh coach yang bisa memberikan arahan (dr kemenegpora?)
sehingga kompetensi kita bisa optimal ketika menempati posisi
yang memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan pemuda
di Indonesia.
Wednesday, October 03, 2007
Day 2 in Cheonan
Hari ini acara banyak di luar
Karena NYC sedang libur besar
dan ada Cheonan Hyungtai Yeung Festival
Parade dari para penduduk di Cheonan
Cheonan ternyata kota kecil...
agak mirip Kotamadya Bogor lah..
banyak yang beratraksi, sekaligus menunjukkan
bahwa Cheonan juga bisa menjadi kota internasional
karena yang ikut parade ternyata
bukan hanya dari Cheonan saja
tapi juga dari negara-negara lain
seperti Amerika Serikat, India, Philipina
Australia, dan INDONESIA...
Beneran.. ada juga parade dari orang Indonesia
buktinya mereka pake batik dan bawa warna merah putih.
duh bangganya waktu dibilang oleh MC,
kalau delegasi Indonesia mau lewat...
segera saja kita bergabung...
dan ketika ditanya mereka kebanyakan dari mana...
tau jawabannya? dari BANDUNG, CIMAHI, JAWA TIMUR...
pantesan, atraksinya kemudian jadi tari jaipongan
Pelajaran pentingnya...
kota kecil saja bisa bertransformasi menjadi kota yang
didatangi banyak foreigner... pasti punya keistimewaan

Misbach, Baban, Fathur ikut gabung dengan parade Indonesia
Sorenya kita pergi ke sebuah tempel, di atas bukit, cukup tinggi.
Awalnya kita kira mau dinner, karena enak betul tempatnya.
Tahunya melihat Sitting Budha...
Patung buda yang sedang duduk. besar banget.
Peserta dari Myanmar, Laos, Thailand langsung melakukan
prosesi penghormatan...
Bagi mereka, suatu hal yang luar biasa bisa berkunjung
ke tempat seperti ini dan bisa melihat Sitting Budha.
Bagi kita? banyak difoto saja, sambil tanya-tanya
ke peserta Myanmar, Laos, Thailand tentang perasaan mereka
Setelah itu kita dinner sekaligus buka puasa.
Alhamdulillah, 5 orang muslim hari ini berpuasa semua
3 dari Indonesia, 1 dari Malaysia dan 1 dari Philipina

Peserta di depan Sitting Budha Statue
Karena NYC sedang libur besar
dan ada Cheonan Hyungtai Yeung Festival
Parade dari para penduduk di Cheonan
Cheonan ternyata kota kecil...
agak mirip Kotamadya Bogor lah..
banyak yang beratraksi, sekaligus menunjukkan
bahwa Cheonan juga bisa menjadi kota internasional
karena yang ikut parade ternyata
bukan hanya dari Cheonan saja
tapi juga dari negara-negara lain
seperti Amerika Serikat, India, Philipina
Australia, dan INDONESIA...
Beneran.. ada juga parade dari orang Indonesia
buktinya mereka pake batik dan bawa warna merah putih.
duh bangganya waktu dibilang oleh MC,
kalau delegasi Indonesia mau lewat...
segera saja kita bergabung...
dan ketika ditanya mereka kebanyakan dari mana...
tau jawabannya? dari BANDUNG, CIMAHI, JAWA TIMUR...
pantesan, atraksinya kemudian jadi tari jaipongan
Pelajaran pentingnya...
kota kecil saja bisa bertransformasi menjadi kota yang
didatangi banyak foreigner... pasti punya keistimewaan

Misbach, Baban, Fathur ikut gabung dengan parade Indonesia
Sorenya kita pergi ke sebuah tempel, di atas bukit, cukup tinggi.
Awalnya kita kira mau dinner, karena enak betul tempatnya.
Tahunya melihat Sitting Budha...
Patung buda yang sedang duduk. besar banget.
Peserta dari Myanmar, Laos, Thailand langsung melakukan
prosesi penghormatan...
Bagi mereka, suatu hal yang luar biasa bisa berkunjung
ke tempat seperti ini dan bisa melihat Sitting Budha.
Bagi kita? banyak difoto saja, sambil tanya-tanya
ke peserta Myanmar, Laos, Thailand tentang perasaan mereka
Setelah itu kita dinner sekaligus buka puasa.
Alhamdulillah, 5 orang muslim hari ini berpuasa semua
3 dari Indonesia, 1 dari Malaysia dan 1 dari Philipina

Peserta di depan Sitting Budha Statue
Tuesday, October 02, 2007
Day 1 in NYC, Korea
09.30. alhamdulillah, hari pertama program di National Youth
Center of korea sudah dijalani. Presiden NYC langsung
yang membuka. Acara dibuka informal oleh Mrs. Shim,
energic women yang jadi EO acara ini. Dilakukan penjelasan
tentang detail acara untuk bulan Oktober dan akan dievaluasi
untuk acara bulan november. Mrs. Shim menggunakan bahasa Inggris,
sampai datang Ms. Joanne, translater. Mrs. Shim menggunakan bahasa Korea,
dan ditranslate oleh Ms. Joanne. I think that's a part of nasionalism,
bangga dengan bahasanya sendiri.
11.00 Mr. Lee (President) datang, saya
langsung lihat jam yang sudah disetting waktu korea,
tepat jam 11.00, sesuai jadwal. Saya langsung ingat
Indonesia, yang biasanya kita harus nunggu dulu
pejabat untuk memulai acara.
Pembukaan berlangsung lancar. Setiap delegasi
memperkenalkan diri dan menyatakan harapan dan
tujuannya. Kita? karena tidak ada pertemuan awal
dengan pihak pemerintah, jadi mengatasnamakan
organisasi pribadi saja dulu, sambil menyisipkan
harapan pemerintah juga (versi kita).
12.00. Ketika selesai dan memberikan kenang2an dari negara
masing2, maka tidak ada yang kita bawa, entah brosur,
pamflet, cd atau yang lain2 ttg apa yang kita lakukan
terhadap pemuda di Indonesia, so alhasil, saya
berinisiatif memberikan buku AMPUH (tulisan saya
sendiri) sebagai souvenir. Sedih juga sih sebenernya,
tapi daripada tidak ada yang diberikan, ya buku lah
sudah cukup.
All participants makan siang, dan Indonesian ngga makan siang
karena puasa, dan Korean mengerti bahwa kita sedang puasa,
karena tahun kemarin ada orang dari Irak yang menjadi peserta
pada salah satu program mereka. Mrs. Shim sangat empatik dengan
tidak makan di hadapan kita.
13.30 Kita diajak kenalan dengan beberapa staf
NYC, dan mereka very profesional, setiap orang
memiliki keahlian, walaupun mereka lulusan D3 atau S1.
mereka benar2 menguasai 1 bidang yang bisa diajarkan
kepada anak muda korea. ada yang ahli bahasa isyarat,
teknik mengajar, magician, tradisional music,
international culture, bahasa inggris, dll. so.. ini
pelajaran juga, bahwa kita seharusnya punya orang2
yang ahli dalam sebuah bidang dan memiliki mindset
yang sama untuk membangun pemuda. pemuda itu
investasi.
14.30 kita berkeliling melihat fasilitas NYC, mulai dari
athletic building, teleskop, workshop keramik, concert hall,
music room, skate board room, etc. sangat komplit.
kita juga melihat ranch dengan 5 ekor kudanya,
karena hari jum'at kita akan horse riding.
16.30 diadakan sncak party untuk peserta. seperti biasa,
kita ngga makan, tapi bisa dibungkus ternyata.
alhasil, kulkan mini di kamar saya penuh oleh makanan.
Ngga jauh beda dengan indonesia, makanannya ternyata
ubi. Kambodia participants very exciting with the ubi.
kalau indonesian, malaysian, philipino.. hmmm biasa aja tuh.
Bahaya, udara dingin, makan ubi.. masuk angin.. and then..
tau sendiri akibatnya....
18.00 makan malam di dinner hall. makanannya belut (eel).
Fathur paling semangat, katanya banyak proteinnya,
makanya kepalanya langsung nyut-nyut-an. saya sih ngga doyan,
geli aja makan belut. Lebih baik makan roti aja,
campur lalap (selada) ama telor. maklum orang sunda, ngga bisa
jauh dari lalapan.
19.00 balik ke kamar dan mulai browse internet lagi.
20.00 ngobrol lagi. share tentang banyak hal di negara masing-masing
terutama dengan pemudanya.
Problem di Kambodia adalah pergaulan yang udah mulai terlalu bebas,
Philipina juga. Malaysia mungkin yang relatif minim masalahnya. karena
perhatian pemerintah mereka juga bagus.
22.00 go to sleep. mimpinya tetep bahasa Indonesia,
ngga bahasa Inggris atau bahasa Korea. zzzzzzzz
Monday, October 01, 2007
Participants
We're in Cheonan, South Korea
Thursday, July 12, 2007
Kepemimpinan 360 derajat
Ketika ada seorang sahabat mengatakan bahwa
memimpin adalah menguasai...
maka saya pun bertanya, apakah benar?
kemudian saya menemukan sebuah buku
judulnya "360 degree leader"
ternyata memimpin itu bukan hanya menguasai
akan tetapi melayani dan menemani
menjadi pemimpin berarti bersedia untuk
MEMIMPIN, DIPIMPIN DAN BERMITRA
Memang ada yang namanya kelas kepemimpinan disini
akan tetapi ketika kelas itu tanpa visi
kepemimpinan pun tanpa esensi
hanya kedudukan dan bukan fungsi
Maka, sangat perlu kita belajar
bukan untuk banyak berkomentar
akan tetapi mencipta karya yang benar
hingga bisa memberi kontribusi yang besar
memimpin adalah menguasai...
maka saya pun bertanya, apakah benar?
kemudian saya menemukan sebuah buku
judulnya "360 degree leader"
ternyata memimpin itu bukan hanya menguasai
akan tetapi melayani dan menemani
menjadi pemimpin berarti bersedia untuk
MEMIMPIN, DIPIMPIN DAN BERMITRA
Memang ada yang namanya kelas kepemimpinan disini
akan tetapi ketika kelas itu tanpa visi
kepemimpinan pun tanpa esensi
hanya kedudukan dan bukan fungsi
Maka, sangat perlu kita belajar
bukan untuk banyak berkomentar
akan tetapi mencipta karya yang benar
hingga bisa memberi kontribusi yang besar
Subscribe to:
Posts (Atom)
