Wednesday, February 21, 2007

Cek dan Kwitansi Kosong

Suatu hari sebuah cek diberikan oleh seorang pengusaha
kepada seorang profesional
Karena ada jasa yang sudah dilakukan
Di bagian atasnya ada 2 bagian
Bagian nama dan jumlah/nominal
Di nominal tertulis angka "sepuluh juta rupiah"
Salah satunya kosong, yaitu bagian nama
Artinya, siapa pun bisa mengambil uang sejumlah yang tertera
Cek itu dibawa oleh si profesional sebagai balas jasanya
Sang pengusaha tidak perduli siapa yang akan mencairkan ceknya
Yang jelas, jumlahnya memang sesuai kesepakatan

Suatu hari, sebuah kwitansi diberikan oleh seorang pegawai
kepada seorang aktivis LSM
karena ada rencana kegiatan yang akan dilakukan
Di bagian atasnya ada 2 bagian
Bagian nama dan jumlah/nominal
Di nama tertulis lembaga yang akan mendapatkan dana bantuan
Salah satunya kosong, yaitu bagian nominal
Artinya, nilai berapa pun bisa dituliskan
Kwitansi itu disimpan oleh si pegawai
Uang sejumlah sekian telah diberikan kepada aktivis LSM
Sang aktivis tidak tahu, berapa rupiah yang akan dituliskan
oleh si pegawai di kwitansi tersebut dan akan kemana uangnya

Cek kosong namanya, terjadi karena kepercayaan yang penuh
Kwitansi kosong jumlahnya, terjadi karena kekosongan hati

Thursday, January 18, 2007

Motif Dan Kekuatan Untuk Memimpin Keluarga

Dalam sebuah keluarga, tentu ada pembagian peran untuk mencapai sebuah tujuan. Menjadi keluarga yang harmonis, tenang adalah sebagian dari tujuan terbentuknya sebuah keluarga.

Membentuk keluarga adalah fitrah bagi setiap manusia. Kebutuhannya untuk mencari pasangan dan saling berbagi dengan pasangan tersebut menjadi jawaban atas pemenuhan dirinya sebagai makhluk social.

Dalam menjalankan sebuah keluarga dengan niat untuk mewujudkan sebuah tujuan—keluarga harmonis dan bahagia—tentu dibutuhkan pembagian peran dan upaya untuk mengoptimalkan peran masing-masing, sehingga semua tujuan bisa tercapai.

Kepemimpinan dalam sebuah keluarga tidak mutlak dimiliki oleh kepala keluarga yang sangat identik dengan peran seorang suami atau ayah. Kepemimpinan bukanlah sebuah posisi, tapi lebih menjadi sebagai fungsi. Kepemimpinan lebih mewujud melalui pengaruh. Seorang menjadi pemimpin karena memiliki pengaruhi atas orang lain.

Seorang laki-laki memang dalam pandangan umum otomatis menjadi kepala keluarga yang akan menjadi penggerak roda keluarga menuju tujuan yang disepakatio bersama. Ketika masa awal keluarga tersebut, kesepakatan hanya antara suami dan isteri, akan tetapi ketika bertambahnya anggota keluarga dengan kehadiran anak, maka kesepakatan dan peran pun bertambah dengan adanya anak—satu, dua atau lebih dari dua anak.

Pembagian peran dan kemampuan menggerakkan roda keluarga menuju sebuah tujuan yang disepakati adalah wahana bagi optimalnya potensi kepemimpinan semua komponen keluarga. Ketika kepemimpinan diartikan hanya sebagai posisi, maka beban untuk menggerakkan roda keluarga hanya di pundak suami/ayah. Ketika kepemimpinan diartikan sebagai pengaruh, maka beban untuk menggerakkan roda keluarga tersebar di seluruh komponen keluarga.

Kepemimpinan bisa berarti power dan motives (kekuasaan/kekuatan dan motif) (James MacGregor Burns). Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki seseorang tanpa motif yang tepat hanya akan menghasilkan sub ordinasi, menganggap orang lain sebagai bawahan.

Motif yang tepat tanpa kekuatan/kekuasaan tidak mampu menggerakan orang lain, apa yang dilakukan berhenti di tataran nilai dan norma, tidak sampai pada perilaku. Motif yang tidak tepat dengan tidak adanya kekuasaan maka hanya akan menghasilkan keluhan dan kegelisahan.

Dalam sebuah keluarga, tentu saja, suami/ayah menjadi prioritas utama untuk menjadi penggerak keluarga, menjalankan kepemimpinan dalam keluarga. Masalah berikutnya adalah, apakah seorang suami/ayah yang notabene berperan sebagai kepala keluarga memiliki motif yang tepat dengan kekuasaannya?

Jika memiliki motif yang tepat, maka bagaimana menggerakakan seluruh komponen keluarga untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati?

Mengutip apa yang menjadi konsep kepemimpinan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu ing ngarso sun tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, adalah refleksi bahwa seorang pemimpin harus bisa menuntun dari depan, membimbing dari tengah dan mengikuti dari belakang.

Konsep kepemimpinan seperti ini memposisikan serang pemimpin tidak hanya memanfaatkan kekuasaannya untuk selalu mengambil posisi di depan dan menjadi orang yang paling tahu, akan tetapi di lain waktu justru menjadi pendamping yang supportif dan bahkan menjadi pengikut yang loyal.

Dalam keluarga, menjadi kepala keluarga berarti memahami potensi semua komponen keluarganya, baik potensi diri sendiri, pasangan maupun anak-anaknya. Dengan memahami potensi semua komponen keluarga, maka mudah bagi seorang pemimpin dalam keluarga untuk mengambil posisi dan memberikan pengaruh melalui posisi tersebut.

Menjadi pemimpin dalam keluarga berarti mengambil posisi yang tepat dan menggerakkan orang lain yang menjadi bagian dari keluarga tersebut dari berbagai arah. Ketika butuh dituntun, berarti seorang pemimpin berada di depan, ketika butuh ditemani berarti seorang pemimpin berdiri si samping dan ketika dibutuhkan untuk mendorong, maka seorang pemimpin berada di belakang.

Membangun keluarga memang bukannya tanpa hambatan, sama tidak mudahnya dengan membangun keluarga untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati. Oleh karena itu dibutuhkan kepemimpinan yang baik, benar dan kuat.

Kepemimpinan yang baik berarti adanya nilai-nilai yang telah disepakati, kepemimpinan yang benar berarti berjalan dalam prinsip-prinsip yang utama dan kepemimpinan yang kuat berarti penerimaan secara tulus dari orang yang dipimpinnya.

Memimpin keluarga berarti memadukan antara pembagian peran—yang juga melakukan pembagian kekuatan antara suami, isteri dan anak--dengan motif berdasarkan peran-peran tersebut. Jika paduannya kurang sempurna, maka jalannya proses berkeluarga tidak akan bisa menuju kebahagiaan. Keluarga akan kesulitan menemukan arah yang dituju, karena tidak ada kepemimpinan yang bisa mengayomi dan mengarahkan potensi menjadi optimal.

Monday, January 08, 2007

Memahami Karena Tidak Berfungsi

Memahami sesuatu tidak baik lebih mudah ketika terjadi sesuatu terhadap fungsinya.

Memahami bahwa Menteri Perhubungan tidak bagus, lebih mudah ketika "tragedi Adam Air"
dikomunikasikan dengan informasi yang tidak aktual, faktual dan akurat.

Memahami bahwa Menteri Kebudayaan tidak bagus,
lebih mudah ketika "tragedi pengembalian Piala Citra" menjadi konsumsi media...
ketika seorang Slamet Rahardjo bertanya, "apakah masih ada peran Film Indonesia
dalam Pembangunan Negara ini...?"

Memahami bahwa, kita, sebagai "khalifah" di muka bumi tidak bagus,
ketika apa yang kita miliki tidak berfungsi...
otak yang dimiliki bukan untuk berpikir bagaimana memberikan manfaat untuk orang lain
tangan yang dimiliki bukan untuk meringankan pekerjaan orang lain
kaki yang dimiliki bukan mengarah bersama menuju visi yang dicita-citakan
paru-paru yang dimiliki, setiap oksigen dan CO2 tidak disertai dengan bersyukur kepada-Nya

Menjadi pemimpin sebenarnya mudah.. selama memandangnya dari sisi fungsi, dan bukan posisi
kalau melihatnya dari sisi posisi, maka masalah lebih banyak dihadapi
karena banyak orang yang nyaman dengan sebuah posisi
kalau melihatnya dari sisi fungsi, maka amanah yang jadi kunci
kepuasan bukan ketika pujian datang, tapi amanah tertuntaskan

Melihat kepemimpinan sebagai posisi, hanya akan menggunakan telunjuk untuk memerintah
Melihat kepemimpinan sebagai fungsi, lebih banyak menggunakan tangan untuk merangkul

Melihat kepemimpinan sebagai posisi, lebih banyak marah kalau ada yang salah
Melihat kepemimpinan sebagai fungsi, lebih banyak mendengarkan ketika ada masalah

Memahami kepemimpinan tidak cukup melalui teori
karena kepemimpinan bukan hanya tentang "apa yang kita tahu"
tetapi, bagaimana kita berperilaku: memperlakukan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Memahami kepemimpinan tidak cukup hanya dengan menduduki sebuah posisi
karena kepemimpinan bukan hanya tentang "apa yang kita miliki"
tetapi, bagaimana kita memanfaatkan apa yang kita miliki untuk memunculkan potensi
setiap orang yang berinteraksi dengan diri kita.

Memimpin berarti bertanggung jawab

Tuesday, October 10, 2006

Sekolah Hewan

Sekolah Hewan.....
Suatu hari, berkumpullah beberapa ekor hewan--siswasebuah sekolah hewan--yang akan mengadakan ujiankelulusan, yang masih menggunakan sistim ranking.Ujian ini akan memilih siapa yang terbaik diantarabeberapa ekor hewan tersebut.Syahdan, terpilihlah 5 ekor hewan terbaik untukmemperebutkan gelar best of the best....Elang, Kelinci, Bebek, Tupai dan Belut aneh....

Kelima ekor binatang tersebut harus berlomba dalam 5jenis 'kurikulum' pertandingan.Kurikulum lomba adalah memanjat, berenang, terbang,berlari.Pada pelajaran pertama--memanjat, semua binatangmenerima tantangan, tapi ada satu yang protes, yaituelang, yang menginginkan memanjat dari arah atas kebawah, bukan sebaliknya. Protes tidak diterima danlomba dilanjutkan. Pemenangnya adalah tupai.

Pada pelajaran kedua--berenang, semua binatangmenerima tantangan, tapi ada satu yang protes, yaitukelinci, karena menetapkan standar kedalaman untuk tempat berenang. Protes tidak diterima, lombadilanjutkan dan pemenangnya adalah bebek.Pada pelajaran ketiga, berlari, lomba dilaksanakan,tapi bebek mengajukan syarat untuk melapisi kakinyadengan alas, karena dalam beberapa meter kakinyapecah-pecah.

Lomba dilanjutkan, dan pemenangnya adalahkelinci.Pada pelajaran keempat, terbang, semua hewan mengikutikegiatan, dan ternyata bebek mengajukan syarat lagi,yaitu terbangnya boleh berhent-berhenti, tidaksekaligus.... pertandingan tetap dilanjutkan, danpemenangnya adalah burung elang....Setelah selesai semua pelajaran yang dipertandingan,maka diadakan perhitungan berupa akumulasi dariseluruh kegiatan.

Dan tanpa diduga, ternyata peraihnilai akumulasi tertinggi adalah belut aneh.. karenapenilaian tidak hanya diukur dari hasil akhir, tapijuga dari spirit dan proses dalam mengikuti seluruhkegiatan.Binatang-binatang lain yang mengajukan keberatandengan aturan malah mengalami pengurangan, karenamereka dianggap melakukan pembenaran atas kelemahanmereka.

Wisuda untuk pelajar terbaik pun dilakukan, dan dalamsambutannya.. 'belut aneh'--sang pemenang--mengatakanbahwa kekuatan hanya akan muncul jika kita bisamengalahkan diri sendiri, bukan orang lain. Kekuatanbukan bersumber dari kelemahan orang lain, tapi justrubagaimana menyikapi kelemahan diri sendiri dengan benar...

Mengucil

Negara ini sudah terlalu lama dijajah oleh dirinya sendiri
Semakin hari semakin mengucil (bukan mengecil--ini lebih parah)

Terpisah dari kenyataan....
Terpisah antara pemimpin dengan yang dipimpinnya
Terpisah antara yang dipilih dengan yang memilihnya
Terpisah antara yang melahirkan dengan yang dilahirkannya
Terpisah antara yang mengangkat dengan yang diangkatnya
Terpisah antara yang menolong dengan yang ditolongnya

Terpisah menyebabkan selisih
Selisih menyebabkan jarak
Jarak yang terlalu jauh membutuhkan kecepatan yang tinggi
Jarak yang terlalu jauh (juga) membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya
Jarak, kecepatan dan waktu...

Kini, para pemimpin terpilih sudah 'menabung' untuk dipilih kembali
Sang Raja masih ingin jadi raja...
5 kue pertama saja belum habis, sudah meminta 5 kue berikutnya
Wakil Raja pun demikian...
Memanfaatkan betul ketidakkompakannya untuk 'menabung'
pundi-pundi dan suara

Padahal kerja mereka pun belum banyak bermanfaat
Padahal rakyat masih banyak yang sengsara
Padahal banyak mulut yang meminta mereka berpikir ulang

Negara ini sudah terlalu lama dijajah oleh dirinya sendiri
Semakin hari semakin mengucil (bukan mengecil--ini lebih parah)

Mengucil membuat kita makin terasing
Mengucil membuat kita makin terpisah
Mengukur jarak, kecepatan dan waktu adalah solusi
Tentu dibarengi dengan hati...